Kodok Virtual


Oleh: Oktavianus Jeffrey

Revolusi teknologi informasi dan komunikasi telah menciptakan arena baru dalam bersosialisasi. Kini, manusia dapat berinteraksi di dua dunia berbeda, maya dan nyata. Jarak bukan lagi masalah. Sebab, koneksi online memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan siapa pun dibelahan bumi bagian manapun. Manusia tidak lagi hidup dalam kotak-kotak yang terpisah dalam tataran lokal melainkan telah mengglobal. Ibarat kodok yang hidup di dua alam, yakni air dan daratan. Anak muda pun tak ubahnya seperti kodok. Hidup di dua dunia yang tak sama, dunia nyata dan dunia maya/virtual. Maka, tak berlebihan bila eksistensi anak muda dewasa ini adalah sebuah lakon kodok virtual.
Ada kalanya kodok berada di tempat yang basah, lalu kembali berada di habitat yang kering. Begitu pula anak muda yang menghabiskan waktu dengan ‘menenggelamkan’ diri berlama-lama di depan layar seluler atau laptop/komputer untuk surfing di dunia maya. Dalam sekejap bisa berpindah melintasi dua dunia. Dalam konteks inilah, saya menarik benang merah antara social media, anak muda dengan tipikal kodok. Apa yang istimewa dari seekor kodok, selain dibuat menjadi kodok goreng mentega ataupun suike? Ada hal yang menarik untuk disimak sehubungan dengan tiga variabel diatas, yaitu:

1. Bisa hidup (baca: eksis) dalam kondisi apapun
Kodok memiliki kemampuan untuk dapat hidup baik dalam kondisi lembab maupun kering. Dia bisa bertahan didalam air cukup lama. Makanya, kita tidak pernah mendengar berita kodok yang mati kelelep. Lha, kodok kan binatang amfibi. Dalam kondisi kering di darat pun it’s okay untuk kodok coz no problemo.
Bagaimana dengan anak muda? Tengoklah aktivitas mereka saat kuliah. Pernahkah anda melihat adanya suatu kejanggalan pada teman anda? Orang yang selama ini anda kenal rajin telat masuk, hobi membolos, pandai membuat strategi mencontek, tampak tertunduk khidmat, dengan pandangan terfokus pada bukunya. Tetapi setelah ditelisik dibawah meja, welah dalah, sedang memegang handphone yang dibungkus buku. Ternyata malah asyik update status dan nge-tweet di jagat maya.
Tak pandang situasi dan kondisi. Saat santai di rumah atau serius pas kuliah anak muda bisa menginjakkan kakinya bersama, bisa berada dalam dua jagat sekaligus, antara maya dan nyata. Itulah salah satu kelebihan gadget di abad modern saat ini. Handphone, laptop, I-pad dan seterusnya, dapat dioperasikan tanpa mengenal situasi dan kondisi apapun. Selama energi baterai masih ada, online bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun juga. Bahkan tidak terikat pada lokasi hotspot. Tinggal mak jleb colok modem atau menggunakan handphone, maka dunia serasa berada dalam genggaman.
2. Fleksibel
Badan kodok yang licin memampukannya dapat bergerak dengan fleksibilitas yang tinggi, baik di darat ataupun air. Anak muda pun tak lepas dari karakteristik semacam ini. Saat mobile kemanapun juga, update status bisa jalan terus. Bisa sambil kuliah, tangan kanan mencatat sementara tangan kiri mijit tuts HP/laptop. Bahkan yang lebih ekstrim, yakni saat berkendara motor masih sempat-sempatnya fesbukan. Pokoknya, fleksibel, mau kemana saja bisa luwes bergerak sambil nge-net.
3. Suka melompat
Ciri khas kodok yang paling kelihatan ya ini, suka melompat. Biar capeknya kayak apapun juga, dia akan tetap melompat (kecuali kalo kakinya lagi kram). Dalam konteks ini dapat dilihat, bilamana anak muda baru buka facebook sebentar, sudah ‘melompat’ ke twitter, lalu mejeng di Yahoo Messenger, terus mojok di pocodot, eh balik lagi ke facebook, dan begitulah seterusnya.
4. Lidah Panjang
Secara biologis, lidah kodok dari negara manapun, setahu saya berukuran relatif panjang. Hubungannya dengan anak muda didunia maya adalah bahwa ‘lidah’ mereka bisa panjang menjulur kemana-mana. Disini saya mau mengatakan bahwa anak muda sering membuat pernyataan di berbagai kesempatan dalam dunia maya. Bisa dalam bentuk status, tweet, komentar-komentar usil sekedar jahil. Meskipun seringkali tidak penting dan berbobot. Kadang malah cenderung ceplas-ceplos dan ngember nggak jelas.

Begitulah kira-kira fenomena kodok virtual yang marak ditemui. Tetapi, apakah hanya berhenti seperti itu saja? Benarkah yang disebut kodok virtual termasuk hal yang negatif? Tunggu dulu. Sosok kodok virtual sejati tentu mampu memaknai dan menghayati lakonnya secara lebih baik. Oleh sebab itu, saya selaku penulis mau menawarkan sedikit refleksi pemikiran, yang masih terinpirasi juga dari kodok. Bahwa, anak muda dapat menjadi kodok virtual yang maksimal, bila dapat menangkap poin-poin sebagai berikut:

1. Julurkan lidah ke atas
Bila kodok menemukan mangsanya (biasanya nyamuk yang beterbangan). Ia akan fokus menengok ke atas dan siap menjulurkan lidahnya ke atas untuk dapat menyantap hidangan lezat yang sedang terbang. Maksudnya, di dunia maya itu ada banyak profil orang sukses. Entah anda mau mengukurnya dari sisi materi, gaya hidup, atau pemikiran, terserah pada anda. Yang ingin saya tekankan, mereka adalah orang-orang di “posisi atas”. Jika anda ingin sukses juga, “julurkan lidah” anda untuk dapat mengecap rahasia kesuksesan mereka. Dengan mempelajari profil kepribadian maupun suka duka pengalaman yang mengantarkannya pada kesuksesan. Siapa tahu bisa ketularan ilmunya? Yups!
2. Peka Perubahan Cuaca
Kodok terkenal sangat sensitif terhadap terjadinya perubahan suhu udara di sekitarnya. Bagi kodok, inilah waktu untuk bereaksi terhadap hukum alam. Insting alamiah ini akan mendorongnya untuk berpindah menuju ke tempat yang aman agar tidak terkena terpaan air hujan. Kita pun perlu sadar dan peka akan kapan waktu yang tepat untuk online dan saat melakukan tanggungjawab untuk belajar dan bekerja. Dan peka disini juga dapat diartikan sebagai peka membaca peluang.
3. Menekan ke tanah, lalu melompat lebih tinggi.
Dalam situasi darurat, seperti dikejar musuh atau terancam bakal terinjak manusia. Kodok akan menekan seluruh bobot tubuhnya ke tanah yang akan memberi kekuatan untuk bisa melompat lebih tinggi. Anak muda bisa belajar dari jurus kodok yang satu ini. Bahwa, anak muda jangan mudah putus asa bila menghadapi masalah. Justru masalah harusnya menjadi motivasi untuk menekan potensi didalam diri agar bisa keluar menemukan pemecahan masalah terbaik. Jangan sedikit-sedikit mengeluh didunia maya dengan mengatakan “lagi galau”.
4. Cinta tanah air
Bung Karno selalu bersemangat ketika menyerukan jargon cinta tanah air dan jangan salah lho, kodok pun mempunyai cita rasa nasionalisme yang tinggi. Ia sangat mencintai habitatnya di darat (baca: tanah) dan juga di air. Jadi, jelas bahwa ia selalu feel at home di dua habitat alami tersebut. Pertanyaannya sekarang, apakah kita masih memiliki rasa cinta tanah air? Masihkah kita sebagai anak muda suka “lupa daratan” karena terlalu asyik surfing di dunia maya dan melupakan tanggungjawab di dunia nyata entah sebagai pelajar atau mahasiswa?

Tersedianya aneka fasilitas tidak otomatis mendongkrak performa anak muda untuk pengembangan diri, peningkatan prestasi dan kiprah yang nyata bila tidak dibarengi kesadaran bermedia yang tinggi. Justru anak muda akan menjadi terasing dari realita, jika terlalu larut di dunia maya. Tanpa visi tentang pemanfaatan internet yang jelas, jejaring sosial dapat melenceng dari tujuan pada desain awalnya sebagai media sosial dan sumber informasi. Yang lebih disayangkan lagi, ketika potensi untuk mengakses informasi didunia maya tidak dibarengi dengan keterampilan untuk mengolah informasi. Akibatnya, semua hal penting hanya dibaca sekilas saja secara selayang pandang tanpa menambah wawasan pengetahuan dan pengembangan kualitas pemikiran anak muda.

Sosok kodok virtual yang ideal haruslah mampu menyebarkan virtue (kebajikan) sehingga memberi pengaruh positif didunia maya. Aksi penggalangan dana untuk membantu korban bencana alam, solidaritas dukungan, atau hal lain yang mampu mendorong anak muda dalam berkreasi menuangkan ide kreatif, sampai mendapatkan penghasilan dengan mempromosikan produk atau karya di dunia maya patut dilakukan.

Penulis:
Oktavianus Jeffrey
Mahasiswa  Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma.

(Essay ini menjadi Juara Umum Lomba Menulis yang diselenggarakan oleh Radio Masdha FM.)

About Jeffrey Tumbuh

Mengajar di SD Tumbuh Yogyakarta - Inclusive and Multicultural School

Posted on Desember 25, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: